Selasa, 19 Maret 2013

NERAKA DALAM PENGAJARAN TUHAN YESUS



I. PENDAHULUAN
1. 1. Latar Belakang Masalah
         Topik tentang Neraka yang dibicarakan dalam Kitab Suci, khususnya dalam Perjanjian Baru merupakan bahasan yang serius dan menakutkan. Apalagi hal ini dikemukakan oleh Tuhan Yesus sendiri sebagaimana dapat dibaca dalam Injil. Neraka sungguh menjadi tempat yang mengerikan dengan berbagai kategori analogis yang menyertainya, seperti: “api” yang menyala-nyala untuk membakar; suasana dimana terdapat “ratapan dan kertakan gigi”, atau dalam ungkapan lainnya sebagai “kegelapan yang paling gelap”. Semua gambaran ini jelas memperlihatkan bahwa Neraka adalah tempat yang tidak layak huni dan karena itu perlu dihindari oleh umat manusia. Namun serentak dengan adanya kesadaran semacam ini, muncul pula gugatan lain yang mempertanyakan, mengapa Allah yang mahapengasih mengadakan Neraka bagi umatNya senidiri? Apakah Neraka merupakan hukuman kekal dimana api yang menyala-nyala membakar tanpa terpadamkan, untuk memanggang orang berdosa selama-lamanya? Apakah dengan mengadakan Neraka seperti ini Allah telah bertindak adil terhadap umatNya?
            Pengajaran tentang Neraka sebagai pokok yang sangat mengerikan juga telah melembaga dalam Gereja. Dalam keyakinan iman Kristen, Neraka pada hakikatnya dimengerti sebagai lawan dari Surga.[1] Meskipun semua hal lain mengenai api dan siksaan badan di Neraka hanya bersifat kiasan, namun hal itu bukan berarti bahwa tidak ada penghakiman di sana. Sebab pada intinya setiap orang mendambakan kesatuan dengan dengan Allah. Mungkin saja di dunia ini orang tidak membutuhkan Allah, tetapi bila manusia sudah mengenal dirinya dengan baik, maka ia tentu merasakan dan mengalami bahwa hidup tanpa Allah adalah maut.[2] Itulah makna dari Neraka yang berarti keterpisahan hidup dari Allah sehingga mengakibatkan kebinasaan.
            Dalam artikel ini peneliti ingin mengetengahkan informasi tentang Neraka sebagaimana yang tertulis dalam Kitab Suci Perjanjian Baru. Fokus peneliti di sini adalah meneliti pengajaran Tuhan Yesus tentang Neraka dalam Injil Matius, Markus dan Lukas.

1. 2. Perumusan Masalah
            Dalam penelitian ini, pokok permasalahan yang mau dikemukakan, yaitu:
a.       Berapa kali kata Neraka disebut oleh Tuhan Yesus dalam Injil Matius, Markus dan Lukas?
b.      Tuhan Yesus berbicara tentang Neraka tatkala berhadapan dengan siapa (para pendengarNya)?
c.       Kategori analogis apa saja yang menunjuk pada kata Neraka dalam pengajaran Tuhan Yesus?
d.      Apa makna Neraka dalam pengajaran Tuhan Yesus?

1. 3. Tujuan Penelitian
            Ada beberapa tujuan yang mau dicapai dari penelitian ini, yaitu:
a.       Untuk mengetahui berapa banyak kali kata Neraka disebut dalam Injil Matius, Markus dan Lukas.
b.      Untuk mengetahui siapa saja pendengar yang hadir tatkala Tuhan Yesus berbicara tentang Neraka.
c.       Untuk menggambarkan kategori-kategori analogis yang menunjuk pada kata Neraka dalam pengajaran Tuhan Yesus.
d.      Untuk menjelaskan makna Neraka dalam pengajaran Tuhan Yesus.   

1. 4. Manfaat Penelitian
Penelitian yang dibuat ini bermanfaat untuk memurnikan pemahaman umat beriman Kristen tentang Neraka dalam pengajaran Tuhan Yesus.


II. TINJAUAN PUSTAKA
           Neraka seringkali dilukiskan sebagai tempat yang mengerikan dengan berbagai kategori analogis yang menunjuk kepadanya. Hal ini mungkin dilatar-belakangi oleh pengajaran Tuhan Yesus sendiri yang dalam berbagai kesempatan berbicara secara analogis mengenai riilnya neraka seperti itu bagi umat manusia. Namun bahasa analogis yang dipakai Tuhan Yesus seringkali ditafsir formal sehingga pemahaman yang berkembang mengenai Neraka seolah-olah sebagai tempat penyiksaan seumur hidup bagi orang berdosa, yang selama hidup di dunia tidak mengindahkan kehendak Tuhan.
          Selain itu, pemahaman tentang Neraka juga seringkali dihubungkan dengan konsep dosa dan kelalaian mengaku dosa dengan menerima sakramen tobat. Hal ini cukup mempengaruhi konsep umat beriman pada umumnya sehingga hanya memandang actus dari pengakuan dosa dengan menerima sakramen tobat sebagai yang menyelamatkan tanpa forma yang sungguh-sungguh untuk membarui diri. Terjadilah di sini kepura-puraan untuk menghindar dari Neraka dengan bersembunyi di balik sakramen tobat. Padahalnya, kemunafikan seperti ini yang justru ditentang Tuhan sebab yang terpenting bagiNya adalah metanoia bukannya actus kepura-puraan. Kepada mereka yang berlaku demikian pun akan mendapatkan ganjaran Neraka.
            Berikut ini ada beberapa rujukan yang coba memperlihatkan konsep umat beriman tentang Neraka.

2. 1.  Neraka Sebagai Tempat Penyiksaan Kekal
            Alkisah, pada tahun 1976 seorang wanita kelahiran Chattanooga, Tennessee, Mary Kathryn Baxter mengaku mengalami pengalaman mistik dipilih dan dibimbing oleh Tuhan untuk melihat keadaan Neraka. Dalam catatannya yang diselesaikan pada tahun 1983 namun baru kemudian diterbitkan dalam bentuk buku pada tahun 1993, terdapat kesaksiannya sebagai berikut:
                To those of you who think that hell is here on earth, you are right - it is! Hell is in the center of the earth, and there are souls in torment there night and day. There are no parties in hell. No Love. No compassion. No rest. Only a place of sorrow beyond your belief.[3]  

Selain kesaksian tersebut, terdapat pula kesaksian lain yang senada sebagai berikut:
Neraka ada di pusat bumi dan di sana jiwa-jiwa disiksa siang dan malam. Di neraka tidak ada rasa kasihan, tidak ada istirahat. Hanya suatu tempat penderitaan di luar dugaan kita. Semua pencemooh dan orang-orang tidak percaya, dan berdosa akan mendapat bagian di sana selamanya. Ketika mati, dalam sekejap akan berada di sana, sel dan lubang yang gelap, dibakar api dimakan ulat yang tidak terbakar, dan disiksa oleh makhluk jahat. Bau busuk, menyengat, basi, sampah menyelimuti udara. Seluruh panca indera bekerja sempurna. Saat orang masuk ke sana, mereka memiliki perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran yang sama seperti saat mereka di bumi. Mereka ingat dengan keluarga dan teman-teman mereka, dan mereka memiliki kesempatan untuk bertobat, tetapi mereka menolak. Neraka itu benar ada dan penghukuman itu nyata.[4]

Bedasarkan kedua kutipan di atas jelas diperlihatkan bahwa Neraka lebih dipahami sebagai sebuah tempat penyiksaan kekal bagi orang berdosa. Bagi mereka yang menghuni tempat penyiksaan ini tidak ada pilihan lain untuk keluar darinya selain menerima nasib yang telah diputuskan dan tidak dapat diubah. Neraka sungguh menjadi tempat penyiksaan kekal bagi orang yang semasa hidupnya tidak membuka diri dan mentaati kehendak Tuhan.

2. 2. Neraka Sebagai Akibat Kelalaian Mengaku Dosa Dengan Menerima Sakramen Tobat
            Topik lain yang seringkali dibicarakan sehubungan dengan Neraka adalah soal dosa dan pengakuan dosa (sin and confession). Dalam benak banyak umat beriman kedosaanlah yang menyebabkan terciptanya Neraka. Sebab itu, untuk mengatasi kemungkinan tinggal di Neraka, pengakuan dosa dengan menerima sakramen tobat secara rutin dipandang penting sebagai harapan hidup sesudah kematian.[5]
Motivasi pengakuan dosa seperti ini jelas memperlihatkan bahaya kemunafikan untuk menghindar dari Neraka. Ketakutan terhadap Neraka sebenarnya lebih dipicu oleh soal mengaku dosa atau tidak selama hidup di dunia ini. Kenyataan ini tanpa disadari berimbas pada terdepaknya aspek metanoia (pertobatan yang benar/radikal) dalam praksis hidup umat beriman. Sebab itu, muncullah kekeliruan pemahaman bahwa dosa adalah sesuatu yang lumrah dan pengakuan dosa dipandang sebagai obat penawar yang mujarab untuk meluputkan hidup manusia dari Neraka.
  Dengan melihat berbagai kekeliruan pemahaman tentang Neraka seperti yang telah dijelaskan di atas, maka dalam pendekatan penelitian ini peneliti mencoba untuk mengurai kembali originalitas pengajaran Tuhan Yesus tentang Neraka. Sehubungan dengan itu, hipotesis yang bisa dimajukan adalah Neraka lebih merupakan tempat incinerator (pembakaran) Allah untuk kejahatan. Maksudnya, Neraka bukanlah tempat penyiksaan kekal melainkan tempat pembinasaan kekal (eternal destruction) untuk memusnahkan kejahatan.  


III. METODE PENELITIAN
3. 1. Pendekatan Penelitian
            Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode analisis isi (AI). Metode pendekatan tersebut merupakan sebuah teknik yang digunakan untuk mendapatkan informasi yang diinginkan dari tubuh materi atau teks secara sistematis dan obyektif dengan mengindentifikasi karakteristik tertentu dari suatu materi atau teks (menurut Smith, dalam Crano, 2002).

3. 2. Obyek Penelitian
            Obyek yang menjadi perhatian peneliti dalam penelitian ini adalah pengajaran Tuhan Yesus tentang Neraka sebagaimana tertulis dalam Injil Matius, Markus dan Lukas.

3. 3. Teknik Pengambilan Sampel
            Pengambilan sampel yang dipakai dalam penelitian ini adalah non-random sampling. Artinya, ketiga Injil yang dipilih berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu tanpa memperhatikan kriteria probabilitas bahwa semua Injil dan surat dalam Kitab Suci Perjanjian Baru memiliki peluang yang sama untuk dijadikan anggota sampel.
  
3. 4. Definisi Operasional
a.       Pengajaran Tuhan Yesus adalah hal-hal penting yang disampaikan oleh Tuhan Yesus sehubungan dengan tema pembicaraan tertentu.
b.      Neraka adalah tempat incinerator (pembakaran) Allah untuk kejahatan, yang berarti pemusnahan kekal (eternal destruction)

3. 5. Metode Pengumpulan Data
          Metode pengumpulan data yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi. Maksudnya, peneliti berusaha untuk mengumpulkan pengajaran Tuhan Yesus tentang Neraka dalam sampel-sampel yang sudah dipilih, yaitu Injil Matius, Markus dan Lukas.

3. 6. Metode Analisis Data
         Metode analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah pembuatan deskripsi, dengan kelengkapan statistiknya, yakni persentase. Selain itu, peneliti juga menggunakan statistik inferensial untuk menarik kesimpulan atau membuat generalisasi-generalisasi berdasarkan data yang ada di dalam statistik deskriptif tentang sampel-sampel ke dalam populasi.



IV. Hasil Penelitian
            Setelah menghimpun data dari sampel yang tersedia, yaitu pengajaran Tuhan Yesus tentang Neraka dalam Kitab Suci Perjanjian Baru menurut Injil Matius, Markus dan Lukas, maka dalam uraian berikut peneliti ingin menyajikan hasil pengolahan data tersebut dalam pembabakan sebagai berikut:

4. 1. Kata Neraka
Tabel 1
Penyebutan Kata Neraka Dalam Injil Matius, Markus dan Lukas
Injil
Frekuensi
Persentase
Matius
7
64
Markus
3
27
Lukas
1
9
Total
11
100

Berdasarkan table di atas, maka jelas diperlihatkan bahwa kata Neraka paling banyak disebut di dalam Injil Matius, yaitu sebanyak 7 kali atau 64%. Sedangkan kedua Injil yang lain, Markus hanya menyebut kata Neraka sebanyak 3 kali atau 27% dan Lukas hanya 1 kali atau 9%.
Perbedaan frekuensi atau persentase penyebutan kata Neraka di atas mungkin bisa dipahami berdasarkan latar belakang penulisan Injil masing-masing. Tetapi yang pasti bahwa ayat-ayat yang menyebut kata Neraka di dalam Injil Markus dan Lukas juga paralel dengan ayat-ayat di dalam Matius. Meskipun demikian, dari data yang ada bisa disimpulkan bahwa dari ketiga penginjil tersebut, yang paling serius mengetengahkan pengajaran Tuhan Yesus tentang Neraka adalah penginjil Matius. Dalam koridor ini mungkin Injil Matius dapat dilihat sebagai satu katekismus dengan orientasi pastoral atau sebagai refleksi teologis sejarah keselamatan yang berpusat pada pribadi Yesus Kristus, pribadi yang menentukan untuk Yudaisme (Israel) dan Kristianisme (Gereja).[6]
        
4. 2. Para Pendengar
Tabel 2
Para Pendengar Pengajaran Tuhan Yesus Tentang Neraka
Para Pendengar
Frekuensi
Persentase
Orang Banyak Yang Mengikuti Yesus
3
30
Para Murid
6
60
Para Ahli Taurat dan Orang Farisi
1
10
Total
10
100

Berdasarkan data dari ketiga sampel yang diobservasi, pengajaran Tuhan Yesus tentang Neraka paling banyak didengar oleh para murid, yakni dengan frekuensi sebanyak 6 kali atau 60%. Hal ini jelas bisa dimaklumi karena para murid adalah “orang-orang dekat” Tuhan Yesus sehingga hal-hal tertentu yang mau disampaikan oleh Tuhan Yesus lebih mudah dikomunikasikan kepada mereka.
Selain itu, sebagai “orang-orang dekat” juga, para murid tentu hadir dalam berbagai kesempatan bersama Tuhan Yesus, mendengarkan pengajaranNya bersama orang banyak, tak terkecuali pun saat Tuhan Yesus berhadapan dengan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Jadi, berdasarkan generalisasi ini maka bisa disimpulkan bahwa pengajaran Tuhan Yesus tentang Neraka paling banyak didengar oleh para murid.

4. 3. Kategori Analogis
Tabel 3
Kategori-Kategori Analogis Tentang Neraka
Kategori Analogis
Frekuensi
Persentase
Neraka Yang Menyala-Nyala
1
20
Api Kekal
1
20
Api Yang Tak Terpadamkan
1
20
Dapur Api
2
40
Total
5
100

Ada beberapa kategori analogis tentang Neraka yang bisa dijumpai dalam Injil Matius, Markus dan Lukas. Secara umum, Neraka digambarkan sebagai “Dapur Api” dengan frekuensi kemunculan sebanyak 2 kali atau 40%. Selain itu, Neraka juga digambarkan sebagai “Yang Menyala-Nyala”, “Api kekal”, dan “Api Yang Tak Terpadamkan”.
Berdasarkan kategori-kategori analogis tersebut, satu hal yang sangat jelas ditekankan sehubungan dengan Neraka adalah “Tempat Api”. Hal ini kelihatan mendukung hipotesis yang ada bahwa Neraka merupakan tempat incinerator (pembakaran) Allah untuk kejahatan. Namun dalam wawasan ini, harus dipahami bahwa Neraka bukan sekedar tempat penyiksaan kekal melainkan tempat pembinasaan kekal (eternal destruction) untuk memusnahkan kejahatan. Hipotesis ini mungkin masih membutuhkan penjelasan lebih lanjut, sebagaimana akan diuji lagi dalam uraian berikut tentang makna Neraka dalam pengajaran Tuhan Yesus. 

4. 4. Makna Neraka Dalam Pengajaran Tuhan Yesus
       Dalam mengurai makna Neraka dalam pengajaran Tuhan Yesus, fokus peneliti berikutnya adalah menjelaskan kembali variabel pendengar dan kategori analogis yang telah dipaparkan di atas untuk menemukan pesan terdalam maksud pengajaran Tuhan Yesus.

4. 4. 1. Pengajaran Tentang Neraka Bukan Ditujukan Kepada Orang Yang Tidak Percaya Kepada Tuhan atau Tidak Beragama, Melainkan Kepada Orang-Orang Religius
            Sebagaimana bisa dilihat dalam table 2 tentang para pendengar pengajaran Tuhan Yesus, ada sebuah kejutan yang bisa dirasakan, yaitu pengajaran tersebut bukan ditujukan kepada orang yang tidak percaya kepada Tuhan atau tidak beragama, melainkan kepada orang-orang yang merasa dirinya beragama atau religius. Para murid, khalayak ramai yang mengikuti Yesus, para ahli Taurat, dan orang-orang Farisi tidak diragukan lagi merupakan pribadi-pribadi yang beriman kepada Allah untuk memperoleh keselamatan atau masuk Surga. Namun mengapa Tuhan Yesus justru berbicara lagi kepada mereka tentang kengerian Neraka? Bukankah lebih tepatnya apabila pengajaran tersebut ditujukan kepada orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan atau tidak beragama agar mereka dapat bertobat dan membuka diri kepada kehendak Allah?
         Jawaban atas pertanyaan di atas kiranya bisa ditemukan dalam rujukan mengenai celaan Yesus terhadap ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Di dalam Matius 23:15, di sana tercatat, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat daripada kamu sendiri”. Dengan kutipan ayat ini, Tuhan Yesus sebenarnya mau memperingatkan bukan hanya kepada para ahli Taurat dan orang-orang Farisi (kumpulan orang Yahudi yang paling religius ini), melainkan kepada semua pihak yang mengira sedang berada di dalam jalur menuju hidup, untuk mengevaluasi hidup keagamaannya sehingga jangan sampai menyesatkan orang lain dengan praktik-praktik hidup yang tidak benar. Dengan demikian, menurut Tuhan Yesus ancaman Neraka bukan hanya bagi mereka yang tidak percaya kepada Tuhan atau tidak beragama, melainkan juga terutama bagi mereka yang menganggap diri beragama namun hidup tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.

4. 4. 2. Kategori Analogis Tentang Neraka
4. 4. 2. 1. Neraka Seringkali Dihubungkan Dengan Api
            Berdasarkan table 3 tentang kategori-kategori analogis Neraka, bisa dibaca di sana bahwa “Api” menjadi pokok penting untuk menjelaskan situasi Neraka. Misalnya, rangkaian kata yang bisa ditemukan adalah “Neraka yang menyala-nyala” (Bdk. Mat. 5:22). Atau contoh lain lagi di dalam Matius 10:28; 18:8-9, dan ayat-ayat paralelnya di dalam Markus 9:43, 47, 48. Namun apa makna dari Neraka dalam perhubungannya dengan Api?
            Ada beberapa wawasan yang mau dikemukakan melalui kategori analogis ini:
Pertama, Destruction terhubung dengan ide tentang Neraka. Kata destruction (kebinasaan, kemusnahan atau kehancuran) seringkali muncul dalam pengajaran Tuhan Yesus. Sebagai contoh, di dalam Matius 10:28, Tuhan Yesus berkata bahwa Allah sanggup destroy (membinasakan, menghancurkan, memusnahkan) tubuh dan jiwa di Neraka. Dalam pengertian ini, maka keterhubungan Neraka dengan Api berarti pemusnahan.[7]
Kedua, Neraka adalah incinerator (pembakaran) Allah untuk kejahatan. Itulah akar kata dari Neraka: Gehenna yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai Hell. Menurut banyak pendapat, kata Gehenna diambil dari nama lembah Hinnom. Lembah Hinnom adalah tempat pembuangan sampah bagi penduduk Yerusalem yang letaknya berada di luar kota. Sampah-sampah yang dibuang di lembah itu harus dibakar, dimusnahkan. Pengertian semacam itulah yang diambil-alih juga untuk menjelaskan maksud dari keberadaan Neraka, yaitu sebagai tempat tempat pembakaran Allah untuk memusnahkan kejahatan.[8]  

4. 4. 2. 2. Neraka juga Dihubungkan Dengan Ungkapan “Ratapan dan Kertakan Gigi” Serta “Kegelapan Yang Paling Gelap”
           Kategori analogis lain yang secara implisit dihubungkan juga dengan Neraka adalah ungkapan tentang “ratapan dan kertakan gigi” serta “kegelapan yang paling gelap” (Bdk. Mat. 8: 12; 13: 42). Apa maksud dari ungkapan-ungkapan tersebut?
Pertama, kaitan Neraka dengan ungkapan “ratapan dan kertakan gigi”. Sebenarnya ungkapan “ratapan dan kertakan gigi” menunjuk pada realitas yang sama meskipun dibahasakan melalui cara yang berbeda. Ratapan dan kertakan gigi sebagaimana yang dapat dibaca dalam ayat-ayat rujukan di atas menampilkan reaksi manusia terhadap hukuman Neraka. Keputusasaan yang dirasakan saat menyadari cara hidup yang salah selama hidup di dunia ini pada akhirnya menghantar pada drama pemusnahan, dihukum menuju kematian yang terakhir, merupakan hal yang sangat menakutkan. Tepat pada saat itulah “ratapan dan kertakan gigi” menjadi pertunjukan yang mengerikan.[9]
Kedua, kaitan Neraka dengan ungkapan “kegelapan yang paling gelap”. Makna dari ungkapan ini sangat jelas bila dibaca dalam perikop yang paralel dengan Matius 8:12, yaitu Lukas 13:28. Di dalam ayat paralel ini memang terdapat sedikit perbedaan pemakaian kata-kata namun justru membantu kita untuk memahami makna dari “kegelapan yang paling gelap”. Secara gamblang, “kegelapan yang paling gelap” berarti kegelapan di luar Kerajaan Allah. Di sana hanya terdapat kematian. Sebab itu, apabila dikatakan bahwa “anak-anak Kerajaan” dicampakkan ke dalam “kegelapan yang paling gelap”, itu berarti bahwa mereka dipisahkan dari hidup Allah; mereka dimusnahkan.[10]  

4. 4. 3. Neraka Adalah Tempat Pembinasaan Kekal
            Setelah menjelaskan kategori-kategori analogis yang menunjuk pada Neraka, maka pada akhirnya bisa disimpulkan bahwa Neraka dalam pengajaran Tuhan Yesus sebenarnya bermakna hakiki sebagai tempat pembinasaan kekal (eternal destruction).
            Secara logis, mungkin ungkapan “pembinasaan kekal” ini problematis karena kedua kata tersebut, yakni “kekal” (eternal) dan “pembinasaan” (destruction) memiliki makna yang bertentangan. Hal yang bersifat kekal tentunya tidak dapat dibinasakan atau dimusnahkan; melainkan hanya yang bersifat tidak kekallah yang bisa dimusnahkan. Namun dalam batasan pengertian ini, “pembinasaan kekal” yang dimaksudkan lebih sebagai kemusnahan selamanya tanpa bisa kembali lagi.
            Sehubungan dengan tesis ini, yaitu Neraka sebagai tempat pembinasaan kekal, sungguh mendapat peneguhannya yang mendasar apabila kita memahami kategori analogis “Api” sebagai lambang penghancuran. Bahwa Api bukanlah lambang penyiksaan. Api adalah lambang pemusnahan yang memusnahkan segala sesuatu dengan sangat cepat sehingga kita bahkan tidak memiliki waktu yang cukup untuk menderita. Bagai secarik kertas yang dibakar, keberadaan seseorang di dalam Neraka pun akan segera lenyap dilalap api. Dengan menyadari kengerian Neraka seperti ini, kita lantas mengulang kembali gugatan yang pernah ada, di manakah keadilan Allah dengan mengadakan Neraka terhadap umatNya?
            Pada dasarnya keadilan Allah tidak perlu dipersoalkan sebab dengan mengadakan Neraka pun Allah tetap berlaku adil terhadap umatNya. Neraka akan selalu ada karena Allah memerlukan suatu tempat untuk membinasakan kejahatan.
            Memang jauh di lubuk hati terdalam Allah bahwa Ia tidak senang melihat kematian orang fasik (Bdk. Yehez. 33:11), namun sampai pada titik tertentu apabila kita tidak memiliki sedikit pun niat untuk bertobat, membuat keputusan keberadaan untuk menolak dosa, maka itu berarti kita tidak memberi pilihan lain kepada Allah selain membinasakan kita di dalam Neraka. Tentang ini, memang Allah akan melakukannya dengan sedih, akan tetapi Allah perlu melakukannya agar kejahatan bisa disingkirkan.
       Jadi, pembinasaan kekal (eternal destruction) yang berlangsung di dalam Neraka sebenarnya berimbang dengan dosa yang diperbuat oleh manusia. Itulah keadilan Allah!
                   

V. Penutup
5. 1. Kesimpulan
Setelah menggumuli unit observasi yang memuat pengajaran Tuhan Yesus tentang Neraka berdasarkan sampel yang dipilih, maka bisa disimpulkan bahwa laporan hasil penelitian ini sekurang-kurangnya telah menjawabi pokok permasalahan dan tujuan penelitian yang dirumuskan pada bagian awal pendahuluan artikel ini. Selain itu juga, hipotesis yang coba diungkapkan oleh peneliti pada bagian akhir tinjauan pustaka bisa ditegaskan sebagai tesis karena kategori-kategori analogis yang menunjuk pada kata Neraka sungguh menegaskan realitas ini, bahwa Neraka adalah tempat pembinasaan kekal (eternal destruction).  

5. 2. Usul-Saran
Menimbang bahwa manfaat dari penelitian ini adalah untuk memurnikan pemahaman umat beriman Kristen tentang Neraka berdasarkan pengajaran Tuhan Yesus, maka dirasa perlu untuk menindak-lanjuti hasil penelitian ini dengan membuat katekese tentang Neraka bagi kelompok-kelompok kategorial dalam pelayanan pastoral. Tujuan dari katekese semacam ini pertama-tama bukan untuk menakut-nakuti umat beriman tentang realitas kengerian Neraka, melainkan terutama adalah memicu kesadaran umat beriman untuk mengevaluasi hidup keagamaannya sehingga tidak tersesat pada praksis penghayatan yang salah atau tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.




[1]Karena Surga merupakan kesatuan sempurna dengan Allah, maka Neraka berarti keterpisahan dari Allah. Bdk. KWI, Iman Katolik Buku Informasi dan Referensi, cet. ke-12 (Kanisius: Yogyakarta, 2007), p. 466.
[2]Ibid., p. 407.
[3]Mary K. Baxter, “A Divine Revelation of Hell”, (online), (http://spiritlessons.com/Mary_K_Baxter_A_Divine_Revelation_of_Hell.htm?gclid=CK_YmOGv6YsCFSAZIwodVHFpRQ), diakses tanggal 20 Desember 2011.
[4]“Ke Mana Kamu Pergi Ketika Ketika Kamu Meninggal”, (online), (http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3870008), diakses tanggal 20 Desember 2011.

[5]John Shea, What Modern Catholic Believes About Heaven and Hell (Chicago Illinois: The Thomas More Press, 1972), p. 70.  
[6]Simeon Bera Muda, “Kuliah Mimbar Eksegese Matius”, (ms.), (Maumere: STFK Ledalero, 2006).
[7]John Shea, op. cit., pp. 73-74.
[8]Ibid.
[9]Eric Chang, “Neraka: Tempat Di Mana Allah Memusnahkan Kejahatan”, (online), (www.cahayapengharapan.org/khotbah.htm), diakses tanggal 20 Desember 2011.
[10]Ibid.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar